PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN) kembali menggelar acara goes to campus. Kali ini, PGN menyambangi Kampus Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. Hadir pada acara tersebut, Direktur Utama PGN, Gigih Prakoso, Rektor UGM Prof. Ir. Panut Mulyono, M.Eng., D.Eng dan ribuan mahasiswa.

Pada kesempatan itu, Gigih menyampaikan kebijakan strategi nasional. Menurutnya, saat ini Indonesia masih bergantung pada minyak bumi untuk memenuhi kebutuhan energinya. Di 2017 lalu, bauran energi Indonesia sebesar 241 Million Tonnes Oil Equivalen (MTOE) di mana 42 persen di antaranya adalah minyak bumi. Kemudian disusul batu bara 30 persen, lalu gas bumi 22 persen dan energi baru terbarukan (EBT) sebesar enam persen.

Gigih melanjutkan, pada 2025, penggunaan minyak bumi ditargetkan bisa ditekan menjadi 25 persen. Lantas  batu bara sebesar 30 persen, gas bumi 22 persen dan EBT ditargetkan mencapai 23 persen di mana target bauran energi Indonesia enam tahun mendatang di angka 412 MTOE.

Pada 2050, pemerintah menargetkan penggunaan minyak bumi semakin menurun hanya 20 persen dan gas bumi makin meningkat menjadi 24 persen. “Implementasi kebijakan energi nasional melalui strategi bauran energi yang dilaksanakan secara konsisten akan mendukung tercapainya kemandirian energi, ketahanan energi dan pada akhirnya akan membuat Indonesia berdaulat dalam pemenuhan energinya,” ujar Gigih, Kamis (15/8) lalu.

Rektor UGM, Panut Mulyono mengapresiasi kegiatan yang dilakukan oleh PGN. Sosialisasi mengenai PGN dan pentingnya gas bumi bagi kemandirian energi perlu terus dilakukan. “Saya senang kegiatan ini dilakukan di UGM.  Ini menjadi wadah bagi mahasiswa/i mengetahui peranan dan kontribusi BUMN di sektor gas ini dalam membangun kemandirian energi Indonesia,” katanya.

Gas bumi juga punya peran penting dalam bauran energi untuk mencapai kedaulatan energi nasional maupun memperbaiki neraca dagang Indonesia. Mantan Direktur Perencanaan Investasi dan Managemen Risiko di PT Pertamina (Persero) menegaskan, jika utilisasi gas bumi domestik dari tahun ke tahun semakin meningkat dan didukung oleh kebijakan pemerintah untuk mengalokasikan gas bumi untuk keperluan domestik dibandingkan untuk ekspor.

Lebih lanjut, kebijakan untuk meningkatkan pemanfaatan gas bumi domestik telah dilakukan pemerintah bersama-sama dengan PGN sebagai subholding gas seperti pembangunan dan pengoperasian jaringan gas bumi untuk rumah tangga, konversi bahan bakar minyak ke gas bumi untuk transportasi darat dan laut. “Peningkatan pemanfaatan gas bumi tidak hanya memberi manfaat secara ekonomi namun juga bagi lingkungan,” ucapnya.